Baru-baru ini masyarakat kita dikejutkan
dengan pernyataan seorang pemimpin
Ormas Islam yang mengatakan bahwa
“Pemimpin yang kafir tetapi adil, itu lebih
baik daripada pemimpin Muslim yang
zalim”. Apakah maksud dan hakikat dibalik
pernyataan yang menimbulkan per
tentangan dan kebingungan ini?
Tidakkah pernyataan seperti ini
adalah simbol dari sikap rendah diri di
hadapan bangsa-bangsa dan
a g a m a l a i n ? T i d a k k a h
pernyataan tersebut akan
meruntuhkan citra kaderkader
pemimpin Muslim?
Perbandingan yang
tidak Adil
Sesungguhnya pernyataan
tersebut tidaklah tepat. Apa lagi hal
itu diungkapkan oleh seorang yang
dianggap “ulama” dan pimpinan
tertinggi ormas Islam. Aturan logika
mengatakan bahwa membuat perbandingan
antara satu hal dengan hal lain itu
harus seimbang; keadilan dengan keadilan,
dan kezaliman dengan kezaliman.
Perbandingan antara pemimpin kafir tetapi
adil, tidak sepadan dengan pemimpin
Muslim yang zalim. Sudah tentulah orang,
secara naluriahnya, akan memilih keadilan
daripada kezaliman. Apa pun keadaannya
dan di mana pun adanya. Sebab keadilan itu
akan menciptakan keamanan, kesejahteraan
dan keharmonisan. Kalau mau
memban-dingkan, seharusnya adalah
antara pemimpin kafir yang adil dengan
pemimpin Muslim yang adil; atau
pemim pin kafir yang zalim dengan
pemimpin Muslim yang zalim.
Ini sejalan dengan pengertian
keadilan itu sendiri yang
b e r a r t i “ s e i m b a n g ”,
“sejajar”, “setara.”
Dalam soal ini, ada
yang berhujah dengan
pendapat Syaikhul Islam
I b n u T a y m i y y a h .
Menurutnya, Ibnu Taymiyyah
saja yang dianggap sebagai tokoh
utama kalangan “salafiyyah” yang
dianggap cukup keras, membolehkan
memilih dan mengangkat pemimpin yang
kafir asalkan adil, daripada pemimpin
Muslim yang zalim. Sebenarnya tidak
demikian maksudnya. Ibnu Taymiyyah tidak
pernah membolehkan hal itu. Bahkan ia
melarangnya dengan keras. Yang ada ialah,
dia mengatakan bahwa “Allah mendukung oleh orang kafir. Tetapi sebaliknya, Allah akan
menghancurkan pemerintahan yang zalim,
walaupun dipimpin oleh seorang Muslim”.
Konteks atau siyaqul kalam dari perkataan
Ibnu Taymiyyah itu bukan soal memilih dan
mengangkat pemimpin, tetapi soal keadilan.
Keadilan itu adalah sunnatullah sebagaimana
juga kezaliman. Kedua hal tersebut berlaku
baik itu kepada pemimpin atau masyarakat
Muslim maupun kafir. Keadilan, dimana pun
adanya, akan senantiasa dirindukan dan
didukung oleh manusia. Sebaliknya,
kezaliman itu, di mana dan siapa pun
pelakunya, akan senantiasa dibenci dan
d i t e n t a n g m a n u s i a . K e a d i l a n i t u
diperintahkan oleh Allah dan disukai manusia
sebab hal itu mendatangkan kebahagiaan
dan kesejahteraan. Sedangkan kezaliman itu
dilarang oleh Allah dan dibenci manusia
sebab hal itu mendatangkan banyak
kemudaratan dan kesengsaraan.
Kepentingan Tertentu
Perbandingan yang jelas-jelas tidak
seimbang itu bisa menimbulkan kecurigaan
dan bisa dimaknai banyak hal. Salah satu di
antaranya adalah, adanya kepentingan
tertentu dibalik pernyataan tersebut; bisa
jadi kepentingan ekonomi, politik dan
kekuasaan, atau pun yang lainnya. Tafsiran
semacam itu muncul sebab ia berada pada
konteks menjelang PILKADA (pemilihan
kepala daerah) pada awal 2017, terutama di
wilayah DKI Jakarta yang saat ini dipimpin
oleh gubernur non-Muslim. Akan ada saja
orang yang memanfaatkan keadaan tersebut
untuk diri atau kelompoknya sendiri dengan
mengatas namakan atau mencari-cari dalil
dan justifikasi dari sumber-sumber
keagamaan.
Bukan hanya itu, pernyataan seperti itu
juga secara implisit terselip adanya sikap
rendah diri dan merendahkan kader-kader
pemimpin dari kalangan umat Islam. Sikap
rendah diri adalah salah satu penghalang
utama kebangkitan umat Islam. Sikap
semacam ini bukan hanya meruntuhkan
kepercayaan diri umat, tetapi juga memperhambakan
mereka di depan orang lain yang
tidak akan pernah perduli dengan nasib
mereka. Selama sikap semacam ini terus
ditanamkan, dipupuk dan dipelihara, maka
sulit untuk membayangkan umat Islam akan
memiliki kader-kader pemimpin yang
memiliki integritas moral dan intelektual
yang tinggi. Akan sangat sulit lahir pemimpinpemimpin
pemersatu umat yang bisa
membawa mereka kepada kejayaan.
Walaupun secara kuantitas umat Islam
adalah mayoritas, tetapi dari segi mentalitas
tetap saja menjadi kaum inlander atau kaum
marjinal yang tertindas.
Oleh karena itu, sudah saatnya umat Islam
bersatu. Sudah saatnya umat Islam memilih
dan mengangkat pemimpin dari kalangan
mereka sendiri. Pemimpin-pemimpin yang
betul-betul beriman kepada Allah dan Rasul-
Nya, yang adil dan amanah. Pemimpinpemimpin
yang tidak angkuh, bersikap
rendah hati, sabar dan penuh kasih sayang.
Pemimpin-pemimpin seperti itulah yang
pantas menjadi penolong orang-orang yang
beriman sebagaimana firman Allah:
Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-
Nya dan orang-orang yang beriman
menjadi penolongnya, maka sesungguhnya
pengikut (agama) Allah itulah yang
pasti menang (QS, Al-Ma'idah, 5:56).
Mengangkat pemimpin yang beriman dan
adil itu banyak kemaslahatannya. Mereka
dengan sendirinya akan melindungi agama
Islam dari berbagai gangguan dan
ro n g ro n ga n . D e n ga n ke ku a s a a n d i
tangannya, dia bisa menghukum siapa pun
yang berusaha menodai dan mencemari
kesucian agama Islam. Dia juga akan sangat
mengerti berbagai keinginan dan harapan
umat, sebab dia lahir dari lingkungan mereka
dan merasakan apa yang dirasakan oleh
mereka. Dia juga akan berbaur dengan
mudah dengan umatnya; sholat berjama'ah bersama mereka, bersama-sama menjalankan
puasa dan menunaikan zakat. Rasa
bersamaan dan ketaatan yang diikat oleh
keimanan kepada Allah dan Rasul-Nya yang
semacam itulah yang akan diberkati dan
dirahmati oleh Allah SWT sebagaimana
firman-NYa:
Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan
perempuan, sebahagian mereka (adalah)
menjadi penolong bagi sebahagian yang
lain. Mereka menyuruh (mengerjakan)
yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar,
mendirikan shalat, menunaikan zakat dan
mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya.
Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;
sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana (QS, At-Taubah, 9:71)
Sumber : Buletin Jum'at Oleh : Dr. Amin Fauzi, M.A.

Post A Comment: